DOKUMEN MANBA'UL ULUM

DOKUMEN MANBA'UL ULUM
sejarah pengarsipan

Selasa, 22 Mei 2012

filsafat pend. islam TUGAS DAN FUNGSI PENDIDIKAN

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.    Latar Belakang
Jhon Dewey pernak menyatakan bahwa : education is the process without end, “ pendidikan itu adalah suatu proses tanpa akhir”. Sejalan dengan strategi pendidikan yang secara universal ditetapkan perserikatan bangsa-bangsa sebagai life long education “pendidikan sepanjang hayat”. Dengan demikian tugas dan fungsi pendidikan berlangsung secara kontinu dan berkesinambungan bagaikan spiral yang sambung menyambung sari satu jenjang ke jenjang yang yang lain yang bersifat progresif mengikuti kebutuhan manusia dalam bermasyarakat secara luas.

1.2.    Rumusan masalah
Dari latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan sebagai berikut :
a.    Apa saja tugas-tugas pendidikan?
b.    Apa fungsi pendidikan?

1.3.    Batasan pembahasan
Darirumusan diatas, maka dapat dibatasi dari pokok pembahasannya sebagai berikut:
a.    Membahas tentang tugas-tugas pendidikan.
b.    Menjelaskan fungsi pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN
TUGAS DAN FUNGSI PENDIDIKAN

Tugas dan fungsi pendidikan itu bersasaran pada manusia yang senantiasa tumbuh dan berkembang mulai dari periode kandungan ibu sampai meninggal dunia.
2.1.    Tugas Pendidikan
Tugas pendidikan dapat dibedakan dari fungsinya sebagai berikut:
a.    Tugas pendidikan adalah membimbing dan mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan kehidupan anak didik dari satu tahap ketahap lain sampai meraih kemampuan yang optimal.
Bimbingan dan pengarahan tersebut menyangkut potensi predisposisi (kemampuan dasar) serta bakat manusia yang mengandung kemungkinan-kemungkinan yang berkembang kearah kematangan yang optimal. Potensi atau kemungkinan berkembang dalam diri manusia itu baru dapat berlangsung dengan baik bila mana diberi kesempatan yang cukup baik dan favorable untuk berkembang melalui pendidikan yang terarah. Kemampuan potensial pada diri manusia baru aktual dan fungsional bila disediakan kesempatan untuk muncul dan berkembang dengan menghilangkan segala gangguan yang dapat menghambatnya. Hambatan-hambatan mental dan spiritual banyak corak dan jenisnya, seperti hambatan pribadi dan hambatan sosial, yang berupa hambatan emosional dan lingkungan masyarakat yang tidak mendorong kepada kemajuan pendidikan dan sebagainya.

2.2.    Fungsi Pendidikan
Fungsi pendidikan adalah menyediakan fasilitas yang dapat memungkinkan tugas pendidikan tersebut dapat berjalan lancar. Penyediaan fasilitas ini mengandung arti dan tujuan bersifat struktural dan institusional.
Arti dan tujuan struktural menuntut terwujudnya struktur organisasi yang mengatur jalannya proses kependidikan, baik dilihat dari segi vertikal maupun dari segi horisontal, dan dimana faktor-faktor pendidikan dapat berfungsi secara interaksional (saling pengaruh mempengaruhi satu sama lain) yang berarah tujuan kepada pencapaian tujuan pendidikan yang diinginkan.
Arti dan tujuan institusional mengandung implikasi bahwa proses kependidikan yang terjadi didalam struktur organisasi itu di lembangkan untuk lebih menjamin proses pendidikan itu berjalan secara konsisten dan berkesinambungan mengikuti kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan manusia yang cenderung kearah tingkat kemampuan yang optimal. Oleh karena itu terwujudlah dari berbagai jenis dan jalur pendidikan yang firmal dan nonformal dalam masyarakat, yang akomodatif terhadap kecenderungan tersebut.
Bentuk bentuk (struktur) organisasi dan institusi kependidikan yang pernah dan masih ada berkembang dalam masyarakat muslim, dapat kita kenal suatu sistem pendidikan islam. Sistem-sistem kependidikan islam tersebut pada umumnya terpisah dari satu dengan yang lainnya dalam pengertian kurikuler, sebagaimana halnya sistem pendidikan klasik non formal zaman sahabat bernama al-kuttab dimana pelajaran membaca kitab suci al-qur’an, tidak ada kaitan kurikuler dengan sistem kependidikan yang lain seperti halaqah dan zawiyah yang berlangsung di masjid-masjid atau di sudut amsjid pada waktu itu. Apalagi bila dihubungkan dengan sistem pendidikan ynag berbentuk Shalunat Al Adabijjah yang lebih bersikap diskusif tentang masalah-masalah kebudayaan daripada mengandung implikasi kependidikan secara sengaja kepada pesertanya. Maka sistem-sistem demikian tampak terpisah satu dari yang lainnya. Lebih-lebih bila dilihat dari segi pendidikan modern maka sistem pendidikan islam yang pernah melembaga itu dapat dikatakan sebagai bukan sebagai sistem pendidikan institusional terpadu, melainkan institusi kependidikan yang bersifat atomistis yang dilembagakan tanpa adanya kaitan dengan mata rantai kurikuler progresif seperti dalam sistem pendidikan yang berjenjang dan taman kanak-kanak sampai keperguruan tinggi.
Di indonesia sistem pendidikan yang paling tua diantara sistem pendidikan yang ada dan masih berkembang sampai kini adalah pondok pesantren dan sejenisnya seperti dayah di aceh, surau disumatra barat, rangkang di cirebon dan sebagainya. Sistem ini dilihat dari segi perspektif pendidikan modern dianggap unik, karena lembaga ini dalam melaksanakan proses kependidikan tidak mendasarkan diri pada kurikulum, tidak terdapat sistem jenjang, metode yang dipakai unik, karena tidak didapatkan disekolah-sekolah biasa, yaitu metode pengajian, sorogan maupun weton, serta metode mengajar secara verbalistik.
Namun secara institusional, lembaga pendidikan pada umumnya dan lembaga pendidikan islam pada khususnya, pada dasarnya berfungsi utama untuk melaksanakan transmisi (perpindahan) dan transformasi (pengoperan atau pengalihan) nilai kebudayaan islam serta kebudayaan pada umumnyadari generasi ke generasi, dimana didalamnya terdapat unsur-unsur dan nilai-nilai kemanusiaan dan keadaban yang secara slektif sangat diperlukan bagi kesinambungan hidup islam dan umat islam didunia ini. Proses transmisi dan transformasi kulturaal tersebut hanya dapat berlangsung secara mantap dan progresif, bilamana diarahkan melalui proses kependidikan dalam lembaga-lembaga yang terorganisasikan secara struktural dan institusional itu.
Pada hakikatnya, dilihat dari segi identitas sosiokultural muslim, pendidikan merupakan alat pembudayaan (enkultrasi) umat manusia yang paling diperlukan diantara keperluan hidupnya, meskipun pendidikan itu sendiri padamulanya timbul dan berkembang dari sumber kultural itu sendiri.
Sebagai suatu alat, pendidikan merupakan suatu aplikasi dari apa yang kita sebut kebudayaan, yang posisinya tidak netral, melainkan selalu bergantung pada siapa dan bertujuan apa pendidikan itu dilakdanakan. Maka disinilan pentingnya falsafah pendidikan islam yang harus berfungsi sebagai pengarah secara tepat penggunaan pendidikan dalam mencapai sasarannya yang longitudinal. Resultante (hasil) yang diperoleh pendidikan bersifat lebih crucial (rawan) dalam hal tiodak cepat dapat dilihat dan diniknati serta bilamana terjadi kesalahan-kesalahan tidak mudah diubah/ diperbaiki. Tidak sama halnya dengan resultante dari usaha dibidang lainnya yang bersifat teknologis dan material. Dengan mengingat hal-hal tersebut, diperlukanlah suatu pandangan dasar yang akan dapat melandasi dan menuntun proses pendidikan dasar tersebut, yaitu tidak lain adalah falsafah pendidikan itu sendiri.pada akhirnya sebagai hamba tuhan yang diberi kelengkapan berupa potensi psikologis berupa akal budi, kemauan dan perasaan yang diciptakan oleh tuhan untuk berdaya cipta, berdaya karsa, serta berdaya rasa dalam hidup bermasyarakat yang dilandasi iman dan taqwanya serta harmonisasi, proses kependidikan senantiasa ditentukan oleh manusia sendiri dalam pengertian teknis edukatif.
Dr. Muhammad S.A. Ibrahimy, sarjana pendidikan islam Bangladesh, dalam salah satu penerbitan mass media islamic Gazatte, tahun 1983yang lalu menguraikan tentang wawasan dan pengertian serta jangkauan pendidikan islam, bahwa Islamic Education in true sense of the term, is a system of education which enables a man to lead his life according to the islamic ideology, so thet he may easily mould his life in accordance with tenets of islam ... the scope of islamic education has bin changing at different of science and theology, its scope has also widened.
Pendidikan islam menurut pandangannya, dalam pengertian sebenarnya, adalah suatu sistem pendidikan yang memungkinkan seseorang dapat mengarahkan kehidupannya sesuai dengan ideologi islam (citra islami) sehingga ia dengan mudah dapat membentuk kehidupan dirinya sesuai dengan ajaran islam. Ruang lingkup pendidikan islam telah mengalami perubahan menurut tuntutan waktu yang berbeda-beda.
Sejalan dengan tuntutan zaman dan perkembangan ilmu dan teknologi, ruang lingkup pendidikan islam itu juga makin meluas.
Pendidikan islam sebagai alat pembudayaan dan masyarakat. Dengan demikian, memiliki watak lentur terhadap perkembangan aspirasi kehidupan manusia sepanjang zaman. Watak demikian, dengan tanpa menghilangkan prinsip-prinsip nilai yang mendasarinya. Pendidikan islam mampu mengakomodasi tuntutan hidup manusiadari zaman kezaman, termasuk tuntutan dibidang ilmu dan teknologi.
Khusus berkaitan dengan tuntutan perkembangan ilmu dan teknologi, pendidikan islam bersikap mengarahkan dan mengendalikannya, sehingga nilai fundamental yang bersumber dari iman dan taqwa kepada allah SWT, dapat berfungsi di kehidupan manusia yang menciptakan ilmu dan teknologi itu. Iman dan taqwanya menjiwai ilmu dan teknologi yang diciptakan. Sehingga penggunaannyapun diarahkan kepada upaya menciptakan kesejahteraan hidup umat manusia, bukan untuk menghancurkannya.
Karena iman dan taqwa kepada allah SWT, pada hakikatnya adalah merupakan rujukan tingkah laku manusia yang memancarkan getaran hati nurani manusia (conscience) yang berkecenderungan kearah perikemanusiaan. Dengan demikian, manusia muslim hasil pendidikan adalah manusia yang berkemampuan menguasai dan menciptakan ilmu dan teknologi pada khususnyadan sistem budaya hidupnyaberdasarkan nilai-nilai islami yang berorientasi pada kesejahteraan hidup didunia untuk meraih kebahagiaan hidup dialam baka.
Islam yang hendak diwujudkan dalam perilaku manusia melalui proses kependidikan bukanlah semata-mata sistem teologinya saja, melainkan lebih dari itu. Yaitu termasuk peradabannya yang sempurna. Oleh karena itu, islam berhadapan dengan segala bentuk kemajuan atau kemodernisasimasyarakat, tidaklah akan mengalami shock ideal mengingat wataknya yang lentur dan akomodatif terhadap segala perkembangan dan kemajuan itu diserap seraya menyeleksi nilai-nilainya untuk disesuaiakn dengan islam atau diberi makna islami.







BAB III
PENUTUP

3.1.   Kesimpulan
Dari pembahasan diatas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.    Tugas pendidikan adalah membimbing dan mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan kehidupan anak didik dari satu tahap ketahap lain sampai meraih kemampuan yang optimal.
2.    Fungsi pendidikan adalah menyediakan fasilitas yang dapat memungkinkan tugas pendidikan tersebut dapat berjalan lancar. Penyediaan fasilitas ini mengandung arti dan tujuan bersifat struktural dan institusional.











DAFTAR PUSTAKA


Nurcholis Madjid, Khasanah Intlektual Islam, Pt Bulan Bintang, Jakarta 1994
Ahmad Daudy, Kuliah filsafat Islam, Pt Bulan Bintang, Jakarta, 1989
Arfifin Muzayyin. Filsafat Pendidikan Islam. PT Bumi Aksara.. Jakarta, 2005
Ahmad Tafsir, Filsafat pendidikan Islam, Pt Remaja Rosda, Bandung, 2006
Hasyimsyah, Filsafat Islam, Gaya Gramedia Pratama, Jakarta  1999

Tidak ada komentar:

Posting Komentar